Rethinking the Minimum Age of Marriage Law in Indonesia: Insights from Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī’s Epistemology

Authors

  • Ahmad Ropei STAI MIFTAHUL HUDA SUBANG
  • Adudin Alijaya STAI Miftahul Huda Subang, Indonesia
  • Muhammad Zaki Akhbar Hasan STAI Miftahul Huda Subang, Indonesia
  • Fakhry Fadhil STISNU Tangerang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.14421/ajish.v56i2.1111

Abstract views: 529 PDF downloads: 299

Keywords:

Minimum age of marriage, bayānī, burhānī, marriage law, Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī

Abstract

Abstract: This article analyzes the renewal of Indonesia’s minimum age of marriage law. Previously, the legal age for men was 19 years, and for women was 16 years. However, Law No. 16 of 2019 amended the law, setting the minimum age of marriage at 19 years for both genders. Notably, this increase for women contradicts certain fiqh texts and is the highest age limit among several Muslim countries. This study employs Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī’s bayānī (indication/explication) and burhānī (demonstration/proof) epistemology to examine the subject. This article identifies the ideal age range for marriage as 19 to 25 years, when individuals reach balig (maturity) and rusydan (legal capacity), demonstrating readiness and mental maturity for marital life. The renewal of Indonesia’s marriage age limit aligns with Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī’s epistemology, which integrates naṣ (Al-Qur’an and hadīth) with rational reasoning and empirical evidence.

 

Abstrak: Artikel ini menganalisis pembaruan ketentuan batas usia perkawinan di Indonesia. Sebelumnya, batasan usia perkawinan bagi laki-laki adalah 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Setelah diubah melalui Undang-Undang No. 16 Tahun 2019, ketentuan batas usia perkawinan antara laki-laki dan perempuan adalah sama, yaitu 19 tahun. Peningkatan batas usia perkawinan bagi perempuan di Indonesia ini menarik untuk dikaji dan dianalisis, karena bertentangan dengan sejumlah teks fikih dan sekaligus paling tinggi di antara beberapa negara muslim lainnya. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang dianalisis menggunakan epistemologi bayānī dan burhānī Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī. Artikel ini menemukan bahwa kriteria ideal batas minimal usia perkawinan berada pada rentang usia 19 sampai dengan 25 tahun. Pada rentang usia tersebut, pasangan calon pengantin telah memasuki masa baligh dan sekaligus cakap hukum (rusydan) sehingga mereka telah memiliki kesiapan dan kematangan mental untuk melangsungkan perkawinan dan menjalani kehidupan rumah tangga. Pembaruan batas usia perkawinan di Indonesia tersebut sesuai dengan epistemologi bayānī dan burhānī Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī karena ketentuan tersebut tetap mengacu pada naṣ (Al-Qur’an dan hadis) yang dilengkapi dengan penalaran rasional dan bukti-bukti empiris.

 

KeywordsMinimum age of marriage; bayānī; burhānī; marriage law; Muammad ‘Ābid al-Jābirī

Author Biography

Ahmad Ropei, STAI MIFTAHUL HUDA SUBANG

Hukum Islam

References

Abbas, Afifi Fauzi. “Integrasi Pendekatan Bayânî, Burhânî, dan ‘Irfânî dalam Ijtihad Muhammadiyah”. Jurnal Ahkam XII, no.1 (2012): 51-58.

Abdullah, M. Amin. “At-Ta’wil Al-’Ilmi: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci.” Jami’ah Journal of Islamic Studies. 39, no. 2 (2001): 359–91.

———. “Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam dalam Merespon Globalisasi”, Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum 46, no. II, (2012): 315-368.

Al-Asyari, M. Khoirul Hadi, Muhaimin, and Qurrotul Ainiyah. “Objektifikasi Hukum Perkainan Islam di Indonesia Perspektif Maqasid Syari’iyyah: Upaya Dari Integrasi Keilmuan Keislaman.” Jurnal Yudisia 7, no. 1 (2016): 199–237.

Al-Jabiry, Muhammad Abid. Bunyah Al-Aql Al-Arabi: Dirasat tahliliyyat Naqdiyyat li Nuzm al-Ma’rifah fi al-Thaqafah al-’Arabiyyah. Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1993.

———. Isykaliyat Al-Fikr Al-Arabi Al-Mu’ashir. Beirut: Markaz Dirasah al-Arabiyah, 1989.

———. Kritik Nalar Arab: Formasi Nalar Arab (Kritik Tradisi Menuju Pembebasan Dan Pluralisme Wacana Interreligius). Yogyakarta: IRCiSod, 2003.

———. Takwin al-Aql al-Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-Arabiah, 1989.

Al-Jauharie, Imam Khanafie. Filsafat Islam Pendekatan Tematik. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2010.

Al-Jaziri, Abdurrahman. Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, Beirut: Dar’al Kutub Al-Ilmiyah, 2003.

Al-Zuhaily, Wahbah. Fiqh al-Islam Waadillatuhu, Beirut: Darul Fikr, 2007.

Anshori, Teguh. “Analisis Usia Ideal Perkawinan dalam Perspektif Maqasid Syari’ah”, Al-Syakhsiyyah: Jurnal Ilmu Hukum & Keluarga 1, no. 1 (2019): 1-16.

Arif, Mahmud. Pendidikan Islam Transformatif. Yogyakarta: Lkis, 2008.

Asrori, Achmad. “Batas Usia Perkawinan Menurut Fukaha dan Penerapannya Dalam Undang-Undang Perkawinan Di Dunia Islam.” Jurnal Al-’Adalah XII, no. 4 (2015): 807–826.

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat Jakarta: Gramedia, 2002.

Bahri, Samsul. “Bayānī, Burhānī dan ‘irfānī Trilogi Epistemologi Kegelisahan Seorang Muhammad Abid Al-Jabiri.” Jurnal Cakrawala Hukum XI, no. 1 (2015): 1–18.

Bastomi, Hasan. “Pernikahan Dini dan Dampaknya: Tinjauan Batas Umur Perkawinan Menurut Hukum Islam dan Hukum Perkawinan Indonesia”, Jurnal Yudisia 7, no. 2 (2016): 354-384.

Budiawan, Afiq. “Nalar Metodologi Pembaharuan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim”, Jurnal Hukumah 1, no. 1 (2017): 21–32.

Cahyani, Tinuk Dwi & Salmah, Halimatus Khalidawati. “Tinjauan Normatif Batas Minimal Usia Anak untuk Melakukan Perkawinan”, Jurnal De Jure 11, no. 2 (2019): 82-95.

Fa’atin, Salamah. “Tinjauan terhadap Batas Minimal Usia Nikah dalam UU No.1/1974 dengan Multiprespektif.” Jurnal 6, no. 2 (2015): 434-460.

Faisol, M. “Struktur Nalar Arab-Islam Menurut Abid al-Jabiri”, Jurnal Tsaqofah 6, no. 2 (2010): 335-359.

Fatarib, Husnul. “Prinsip Dasar Hukum Islam: Studi terhadap fleksibilitas dan adabtabilitas hukum Islam”, Jurnal Nizam 4, no. 1 (2014): 63-77.

Hartati, Sri and Susanti, Triana. “Usia Ideal Menikah dalam Islam; Tafsir Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 6 dan An-Nur Ayat 32”, Bertuah : Journal of Shariah and Islamic Economics 2, no. 2 (2021): 28-35.

Hasyim, Mochammad. “Epistemologi Islam (Bayānī, Burhānī Dan ‘irfānī).” Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 2 (2018): 217–228.

Hatimah, Husnul, Unti Ludigdo, and M Achsin. “Epistemologi Islam Sebagai Metodologi Penelitian.” Jurnal Imanensi 2, no. 2 (2017): 1–6.

Huda, Miftahul. “Epistemologi, Ontologi Dan Aksiologi Hukum Islam.” Al Mashlahah: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam 2, no. 4 (2014): 305–28.

Junaedi, Mahfudz. “Epistemologi Hukum Islam Kontemporer.” Jurnal Manarul Qur’an 19, no. 1 (2019): 24–37.

Kurniati, “Hukum Keluarga di Mesir.” Jurnal Al-Daulah 3, no. 1 (2014): 24-34.

Kusuma, Wira Hadi. “Epistemologi Bayānī, ‘irfānī dan Burhānī Al-Jabiri dan Relevansinya Bagi Studi Agama Untuk Resolusi Konflik dan Peacebuilding.” Jurnal Syi’ar 18, no. 1 (2018): 1–19.

Latief, Imam Zamroni. “Islam dan Ilmu Pengetahuan”, Jurnal Islamuna 1, no. 2 (2014): 151-169.

Makiah, Zulpa. “Epistemologi Bayānī, Burhānī dan ‘irfānī dalam Memperoleh Pengetahuan Tentang Mashlahah.” Syari’ah: Jurnal Hukum Dan Pemikiran 14, no. 2 (2014). 1-28.

Manan, Bagir. Hukum Kewarganegaraan Indonesia dalam UU No. 18 Tahun 2006, Yogyakarta: FH UII Press, 2009.

Mudzhar, M. Atho. “Hukum Keluarga di Pakistan (Antara Islamisasi dan Tekanan Adat).” Jurnal Al-’Adalah XII, no. 1 (2014): 11–24.

Mu’in, Fathul .”Analisis Perbandingan Batas Usia Perkawinan di Mesir dan Indonesia”, Jurnal El-Izdiwaj 1, no. 1 (2020): 71–86.

Mughiyah, Muhammad Jawad. Fiqh Lima Mazhab, Jakarta: Lentera, 2003.

Munif, M. Faishal. “Maslahah Sebagai Dasar Istinbath Hukum Islam.” Jurnal Paramedia 4, no. 3 (2003).

Munir, Badrul. “Batas Usia Perkawinan dalam Undang-Undang Keluarga Islam Negeri Selangor Tahun 2003: Analisis Perspektif Maqasid Al-Syari’ah,” Jurnal Samarah 3, no. 2 (2019): 279-294

Mustakim, Bagus. “Pemikiran Islam Muhammad Abed Al-Jabiri: Latar Belakang, Konsep Epistemologi, Urgensitas dan Relevansinya Bagi Pembaruan Kurikulum Pendidikan Agama Islam”, JRTIE: Journal of Research and Thought of Islamic Education 2, no. 2 (2019): 191-211.

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam. Bandung: Pustaka al-Fikriis, 2009.

Musyarrafa, Nur Ihdatul. “Batas Usia Pernikahan Dalam Islam: Analisis Ulama Mazhab Terhadap Batas Usia Nikah.” Jurnal Shautuna 1, no. 3 (2020): 703–722.

Na’im, Zaenudin. “Epistemologi Islam dalam Perpsektif M. Abid Al Jabiri”, Jurnal Transformatif 5, no. 2 (2021): 163-176.

Najib, Muhammad Agus. “Nalar Burhānī Dalam Hukum Islam (Sebuah Penelusuran Awal).” Hermenia: Jurnal Kajian Islam Interdisipliner 2, no. 2 (2003): 217–38.

Nikhilananda, Swami. Hinduism It’s Meaning for the Liberation of the Spirit, New York: Harper, 1958.

Noviana, Lia. “Status Wanita di Negara Muslim Modern: Studi Terhadap Hukum Keluarga di Tunisia dan Indonesia”, Jurnal Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam 13, no. 2 (2019): 197–214.

Putri, Alifia Fernanda. “Pentingnya Orang Dewasa Awal Menyelesaikan Tugas Perkembangannya”, SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling 3, no. 2 (2019): 35-40.

Rohman, Holilur. “Batas Ideal Usia Pernikahan Menurut Maqasid Shariah”, Journal of Islamic Studies and Humanities 1, no. 1 (2016): 67-92.

Ropei, Ahmad. “Maqashid Syari’ah dalam Pengaturan Batas Usia Pernikahan di Indonesia”, Jurnal asy-Syir’ah 23, no. 1 (2021): 1-20.

Sekarayu, Shafa Yuandina and Nurwati, Nunung “Dampak Pernikahan Usia Dini terhadap

Kesehatan Reproduksi”, Jurnal Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (JPPM) 2, no. 1 (2021): 37-45.

Siregar, Fitri Yanni Dewi and Kelana, Jaka. “Kesetaraan Batas Usia Perkawinan di Indonesia dari Perspektif Hukum Islam”. Mahakim Journal of Islamic Family Law 5, no. 1 (2021): 1-10.

Siregar, Khoiruddin Manahan. “Paradoks Penetapan Usia Perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan Secara Hukum Normatif”, Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi 5, no. 2 (2019): 224-281.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qurân, Vol. 2. .Jakarta: Lentera Hati, 2011.

Soyomukti, Nurani. Pengantar Filsafat Umum. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Syarifudin, Amir. Meretas Kebekuan Ijtihad. Jakarta: Ciputat Press, 2005.

Tafsir, Ahmad. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Mimbar Pustaka, 2002.

Yasid, A. “Epistemologi Ushul Fiqh: Antara Pembaharuan Dan Pemberdayaan Mekanisme Istinbath Al-Ahkam.” Jurnal Asy Syir’ah 45, no. I (2011).

Yuhermansyah, Edi. “Implementasi Batas Umur Pernikahan (Studi Kasus di Mahkamah Rendah Syari’ah Bukit Mertajam Pulau Pinang)”, Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam 2, no. 2 (2018): 485-501.

Wafa, Moh. Ali. “Telaah Kritis Terhadap Perkawinan Usia Muda Menurut Hukum Islam,” Jurnal Ahkam 17, no. 2 (2017): 389-412

Wahyudi, Tri Hendra and Juwita Hayyuning Prastiwi, “Seksualitas dan Negara: Permasalahan Dispensasi Perkawinan Anak di Indonesia.” Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial 13, no. 2, (2022): 205-255.

Downloads

Published

05-12-2022

How to Cite

Ropei, A., Alijaya, A., Hasan, M. Z. A., & Fadhil, F. (2022). Rethinking the Minimum Age of Marriage Law in Indonesia: Insights from Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī’s Epistemology. Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah Dan Hukum, 56(2), 245–264. https://doi.org/10.14421/ajish.v56i2.1111

Issue

Section

Articles