The Legal Framework for Interfaith Marriage in Indonesia: Examining Legal Discrepancies and Court Decisions

Authors

Abstract views: 214 PDF downloads: 114

Abstract

Interfaith marriage has been regulated in Law No. 1/1974 on Marriage and various other legal regulations. However, there are several different or even conflicting court decisions regarding cases of interfaith marriage. This continues even after the issuance of Supreme Court Circular Letter No. 2 of 2023 (known as SEMA No. 2 of 2023), which has become a reference for judges in deciding cases of interfaith marriage. This article examines the legal framework of interreligious marriage in Indonesia by focusing on the various judges' interpretations of legal regulations on interfaith marriage. Using normative legal analysis with empirical data and utilizing the theory of legal pluralism developed by Brian Z. Tamanaha, this article concludes that different perspectives on the protection of citizens' human rights in marriage and the role of religion as a state philosophy have significantly contributed to variations in judges' interpretations of several legal regulations on interfaith marriage. The differences in judges' interpretations have ultimately resulted in differences in legal decisions. This has become a recurring dynamic in judges' understanding of legal regulations on interfaith marriage.

 

Perkawinan beda agama telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan juga berbagai peraturan hukum lainnya. Namun demikian, terdapat sejumlah putusan pengadilan yang berbeda atau bahkan saling bertentangan menyangkut perkara perkawinan beda agama. Hal ini bahkan terus berlanjut pasca keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2023 (dikenal dengan SEMA No. 2 Tahun 2023) yang menjadi acuan para hakim dalam memutus perkara perkawinan beda agama. Artikel ini mengkaji kerangka hukum perkawinan beda agama di Indonesia dengan berfokus pada ragam penafsiran hakim atas peraturan hukum tentang perkawinan beda agama. Menggunakan analisis hukum normatif dengan data empiris dan dengan memanfaatkan teori pluralisme hukum yang dikembangkan oleh Brian Z. Tamanaha, artikel ini menyimpulkan bahwa perbedaan perspektif tentang perlindungan hak asasi warga negara dalam perkawinan dan peran agama sebagai falsafah negara, secara signifikan telah berkontribusi pada variasi penafsiran hakim atas sejumlah peraturan hukum tentang perkawinan beda agama. Perbedaan interpretasi hakim itulah yang pada akhirnya berdampak pada perbedaan putusan hukum. Hal ini telah menjadi dinamika yang berulang dalam interpretasi hakim atas peraturan hukum tentang perkawinan beda agama.

Author Biography

Hasan Bisri, UIN Sunan Gunung Djati

Google Scholar
Scopus ID: 57200569841
Subject areas: Islamic law; Law of Sharia Economics; Tafsir Ahkam

References

Abdurrahman. “Kompendium Bidang Hukum Perkawinan: Perkawinan Beda Agama dan Implikasinya.” Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM, 2011.

Aini, Noryamin, Ariane Utomo, and Peter McDonald. “Interreligious Marriage in Indonesia.” Journal of Religion and Demography 6, no. 1 (May 6, 2019): 189–214. https://doi.org/10.1163/2589742X-00601005.

Ali, Salman Haji, and Ahmad Faisal. “Argumen Islam Progresif tentang Kebolehan Perkawinan Beda Agama.” As-Syams 1, no. 1 (February 2, 2020): 177–90.

Benda-Beckmann, Keebet von, and Bertram Turner. “Legal Pluralism, Social Theory, and The State.” The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law 50, no. 3 (September 2, 2018): 255–74. https://doi.org/10.1080/07329113.2018.1532674.

Gandasubrata, Purwoto S. Renungan Hukum. Jakarta: IKAHI, 1998.

———. “Tinjauan Mengenai Perkawinan Antar-Agama Dengan Berlakunya Undang-Undang Perkawinan (UU No. 1 Tahun 1974),” 1987, 1.

Hazairin. Tinjauan Mengenai Undang-Undang Perkawinan No. 1/1974. Jakarta: Tintamas, 1986.

Institute, Setara. “SEMA 2/2023 Tidak Kompatibel dengan Kebinekaan dan Negara Pancasila.” Berita. Setara Institute (blog), July 20, 2023. https://setara-institute.org/sema-22023-tidak-kompatibel-dengan-kebinekaan-dan-negara-pancasila/.

Jatmiko, Bayu Dwi Widdy, Nur Putri Hidayah, and Samira Echaib. “Legal Status of Interfaith Marriage in Indonesia and Its Implications for Registration.” Journal of Human Rights, Culture and Legal System 2, no. 3 (November 17, 2022): 167–77. https://doi.org/10.53955/jhcls.v2i3.43.

Lubis, Aldi Subhan, and Zaini Muhawir. “The Dynamics of Interreligious Marriage in Indonesian Religious and Legal Perspectives.” ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities 3, no. 1 (April 11, 2023): 43–51. https://doi.org/10.35877/soshum1658.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Kompilasi Ilukum Islam Dan Pengertian Dalam Pembahasannya. Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2011.

———. Himpunan Surat Petunjuk Mahkamah Agung RI Dan Instruksi Mahkamah Agung RI Dari Tahun 1951 s.d.1994. Jakarta: Mahkamah Agung RI, 1999.

———. “Putusan Mahkamah Agung No. 1400 K/Pdt/1986 Tahun 1986.” Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, 1988.

———. “Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Petunjuk Bagi Hakim Dalam Mengadili Perkara Permohonan Pencatatan Perkawinan Antar-Umat Yang Berbeda Agama Dan Kepercayaan,” 2023.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. “Putusan Nomor 68/PUU-XII/2014,” 2014.

Majelis Ulama Indonesia. “Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005.” MUI, July 2005.

Makalew, Jane. “Akibat Hukum Dari Perkawinan Beda Agama Di Indonesia.” Lex Privatum 1, no. 2 (May 8, 2013). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexprivatum/article/view/1710.

Mustafid, Fuad, “Perkawinan Beda Agama dan Kebebasan Individual Manusia dalam Islam: Perspektif “Teori Naskh” Mahmoud Muhamamd Thaha”, Musawa: Jurnal Studi Gender dan Islam 10, no. 2 (2011), https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/article/view/102-05.

Nurhidayat, Despian. “Guru Besar UIN: Surat Edaran MA Tak Cukup Akhiri Praktik Nikah Beda Agama.” Berita. Media Indonesia (blog), July 19, 2023. https://mediaindonesia.com/humaniora/597783/guru-besar-uin-surat-edaran-ma-tak-cukup-akhiri-praktik-nikah-beda-agama.

Palandi, Anggreini Carolina. “Analisa Yuridis Perkawinan Beda Agama Di Indonesia.” Lex Privatum 1, no. 2 (May 8, 2013). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexprivatum/article/view/1717.

“Penetapan Nomor 423/Pdt.P/2023/PN Jkt.Utr,” n.d.

“Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,” n.d.

“Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 24/PUU-XX/2022,” n.d.

“Ringkasan Permohonan Perkara Nomor 24/PUU-XX/2022 ‘Perkawinan Dalam Perbedaan Agama/Kepercayaan,’” n.d.

“Risalah Sidang Perkara Nomor 68/PUU-XII/2014.” In Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta, 2014.

Saleh, K. Watjik. Hukum Perkawinan Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1992.

Setiyanto, Danu Aris. “Perkawinan Beda Agama Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 68/ PUU-XII/2014 dalam Persperktif HAM.” Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam 9, no. 1 (March 1, 2017): 13–30. https://doi.org/10.14421/ahwal.2016.09102.

Suhasti, Ermi, Siti Djazimah, and Hartini Hartini. “Polemics on Interfaith Marriage in Indonesia between Rules and Practices.” Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies 56, no. 2 (December 6, 2018): 367–94. https://doi.org/10.14421/ajis.2018.562.367-394.

Tamanaha, Brian Z. Legal Pluralism Explained: History, Theory, Consequences. Oxford University Press, 2021. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?md5=A8487331BDBF40AC17A314ACB7A067BD.

Tarring, Anisah Daeng. “Perkawinan Beda Agama dalam Perspektif Hukum Positif di Indonesia.” Jurnal Litigasi Amsir 9, no. 4 (August 7, 2022): 269–77.

Taufik, Egi Tanadi. “Meneraca Perkembangan Kasus Nikah Beda Agama Di Indonesia: Sebuah Refleksi Hermeneutis.” In Fikih Humanis: Meneguhkan Keragaman, Membela Kesetaraan Dan Kemanusiaan, by Noorhaidi Hasan, Moh Mufid, Halya Millati, Ahmad Asron, Mohammad Nada, Nasrullah Yaqin, Muhammad Anshori, Ghufron Su’udi, and Nina Mariani Noor, 335–65. Yogyakarta: Pasca UIN Sunan Kalijaga Press & Norwegian Centre for Human Rights (NCHR) Oslo University, 2022.

“Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,” n.d.

“Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan,” n.d.

Wahyujati, Imam. “Pengaturan Perkawinan Beda Agama Di Indonesia.” ’Aainul Haq : Jurnal Hukum Keluarga Islam 2, no. 1 (June 27, 2022). https://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/ainulhaq/article/view/399.

Wahyuni, Sri. “Kontroversi Perkawinan Beda Agama Di Indonesia.” Al-Risalah: Forum Kajian Hukum Dan Sosial Kemasyarakatan 11, no. 02 (2011): 14–34. https://doi.org/10.30631/alrisalah.v11i02.466.

———. “Perkawinan Beda Agama di Indonesia dan Hak Asasi Manusia.” In Right: Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia 1, no. 1 (March 24, 2017). https://doi.org/10.14421/inright.v1i1.1215.

———. “Running Away from Authority to Gain Recognition: The Case of Indonesian Interfaith Marriage Overseas.” AIUA Journal of Islamic Education 1, no. 1 (2019): 123–46.

Zulfadhli, Zulfadhli, and Muksalmina Muksalmina. “Legalitas Hukum Perkawinan Beda Agama Di Indonesia.” Jurnal Inovasi Penelitian 2, no. 6 (November 21, 2021): 1851–62. https://doi.org/10.47492/jip.v2i6.1014.

Downloads

Published

24-01-2024

How to Cite

Bisri, H. (2024). The Legal Framework for Interfaith Marriage in Indonesia: Examining Legal Discrepancies and Court Decisions. Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah Dan Hukum, 57(2), 201–229. Retrieved from http://asy-syirah.uin-suka.com/index.php/AS/article/view/1326

Issue

Section

Articles